Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Perawat Luka sang Penumbuh Asa

Gambar
Setiap insan berhak untuk bermimpi. Mimpi untuk hidup yang lebih baik, mimpi untuk terus bersama dengan yang terkasih, mimpi apapun itu. Dengan bermimpi, ada asa yang terbentuk. Asa yang kemudian menumbuhkan semangat untuk terus berjuang mewujudkannya.   Di suatu daerah di Pulau Dewata, ada seorang yang berprofesi sebagai perawat. Bukan perawat biasa, dialah I Made Aditiasthana yang menjadi perawat luka. Beliau dikenal sebagai sang penumbuh asa dari pasien yang dirawatnya. Lebih spesifik, lulusan Universitas Udayana ini merawat luka pasien yang menderita kencing manis (diabetes), yang mengalami komplikasi hingga akhirnya berujung amputasi karena kematian jaringan akibat penyakit ini.   Biasanya untuk merawat luka diabetes, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini karena obat-obatan yang dipakai ada banyak dan harganya tidak murah. Selain itu juga membutuhkan ketelatenan dan ketrampilan tenaga ahli yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan tersendiri. Di Denpasa...

Masjid Kota Pasuruan dan Sekitarnya

Gambar
M asjid Jami' Al Anwar, hasil potretan saya Setiap kota / kabupaten pastinya memiliki  Masjid Jami’ (dalam bahasa Arab, kata ‘Jami’ itu sendiri berarti ‘umum’ atau ‘publik’). Masjid Jami’ biasanya berukuran besar dan seringkali disebut Masjid Agung. Letaknya kebanyakan berada di pusat kota karena memang fungsinya yang dipergunakan untuk khalayak ramai. Masjid Jami’ sangatlah terkenal, bahkan menjadi simbol tersendiri untuk suatu daerah. Kalau di kota saya, Pasuruan,  Masjid Jami’ Al Anwar  namanya. potret dari kim Letak Masjid Jami’ Al Anwar Kota Pasuruan  berada di tengah kota, di depan alun-alun . Tepatnya di antara Jalan Niaga dan Jalan Nusantara. Kedua jalan ini merupakan pusatnya pertokoan, mau cari apa saja ada di toko-toko di kedua jalan ini. Pun pusatnya hiburan warga. Keberadaan Masjid Jami’ Al Anwar layaknya memberi peringatan bahwa sesibuk apapun urusan duniawi (bekerja, belanja dan bersenang-senang) jangan sampai lalai ibadah kepada Allah. potret dari ata...

Wisata Murah Kota Pasuruan

Gambar
  Yuhuu ... Selamat hari Minggu! Nyanyi dulu, yuk! “Pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota Naik delman istimewa kududuk di muka” ... Itu tadi kan lirik lagu anak-anak. Kalau saya yang menyanyikannya, karena liburan bersama Shasa (keponakan), Din, Devi dan Selly (saudara) maka diubah jadi ... : “Pada hari Minggu kuajak saudara ke kota Naik kelinci, putar kota, kududuk di muka” Eh, naik kelinci? Iya! Serius! Bukannya gak sayang sama binatang. Habisnya ... Cukup pakai uang kecil, kita bisa nikmati indahnya Pasuruan pagi. Penasaran? *angguk-angguk Mau juga? *makin angguk-angguk Ayooo ke Pasuruan! Kali ini, nyontek  Blog Jalan-jalan  lainnya, saya akan bahas tentang salah satu kota di Jawa Timur. Kota Pasuruan, k ota kelahiran saya yang luasnya cuma 77 Km2 ini berada di jalur utama  antara Surabaya - Banyuwangi. Walau kota kecil, setidaknya kalian sudah pernah mendengar namanya. Kan Inul si Goyang Ngebor juga dari Pasuruan, hihi.  Masyarakatnya beragam, yah ... sebagi...

Garda Pangan sang Penyelamat Kelaparan di Surabaya

Gambar
  Di suatu malam, saya pernah memikirkan tentang sajian makanan hotel mewah. Tentunya rasanya sangat lezat. Tapi apabila jumlahnya melebihi jumlah pengunjung hotel, lalu bagaimana nasib makanan yang tidak termakan? Apakah terbuang dengan percuma? Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat sedunia setelah India, Tiongkok, dan Amerika Serikat, Indonesia rupanya memiliki masalah dengan pengelolaan sampah makanan. Siapa sangka bila negara kita menjadi penghasil sampah makanan terbesar, setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat. Data ini didapatkan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), yang mana pada tahun 2000 hingga 2019 tercatat sampah makanan yang terbuang sekitar 115-184 kilogram per tahun. Padahal berdasarkan Global Hunger Index 2021, tingkat kelaparan Indonesia menempati peringkat ketiga di Asia Tenggara loh. Ketimpangan tersebut cukup miris, bukan? Tentunya tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah saj...